Senin, 23 November 2015

REVOLUSI DUNIA



Reflesi ini merupakan refleksi kuliah filsafat oleh Prof. Dr. Marsigit, MA di gedung lama 305b pada selasa, 10 November 2015. Pada perkuliahan ini berbeda dengan kuliah sebelumnya yaitu tidak diawali dengan tes jawab singkat. Pada perkuliahan ini dibahas mengenai objek filsafat terdiri dari  yang ada dan yang mungkin ada. Kita hanya bisa memikirkan sifat-sifatnya dari yang ada dan yang mungkin ada. Padahal yang ada dan yang mungkin adapun mempunyai bermilyar-milyar sifat. Sehingga, sebagai manusia tak akan mungin bisa memikirkan semua sifat dari yang ada dan yang mungkin ada. Maka karena ketidakmampuan manusia itu terdapat filsafat reduksi atau sering disebut reduksionisme. Kita sebagai manusia pada dasarnya sebagai reduksifis dan ketika manusi lahir dibumi manusia berasal dari reduksi yang dipilih langsung oleh Tuhan. Hasil dari reduksi dari apa yang kita pikirkan tergantung dari apa yang ingin kita bangun. Misalnya membangun rumah tangga, membangun kedisiplinan, kepercayaan, ilmu dll.
Secara lebih detail Beliau menjelaskan  bahwa yang tetap itu terdiri dari separuh dunia dengan tokohnya permenides maka filsafatnya disebut permenidenism. Filsafat yang tetap berada di dalam pikiran dan bersifat absolut atau ideal dengan tokohnya adalah plato. Dari yang tetap, nampaknya ada sualtu aliran relativisme dengan tokohnya adalah einstein. Jadi relativisme ini bersifat identitas dimana I=I, sedangkan pada relatif bersifat kontradiktif dimana I tidak sama dengan I. Pada bagian tetap menekankan pada kekonsistenan. Pikiran itu bisa menjadi ilmu jika konsisten. Sedangkan separuh dunia lagi berasal dari yang berubah dengan tokohnya adalah heroclitos. Filsafat yang berubah berada di luar pikiran dan bersifat realism dengan tokohnya adalah aristoteles. Dari yang berubah, nampaknya ada suatu dunia yang disebut dengan dunia presepsi. Didalam dunia presepsi panca indra mengambil peran penting untuk menandakan suatu yang ada dengan pembuktian pembenarannya yang disebut korespondensi atau filsafatnya disebut korespondenisme.
Selanjutnya dibahas mengenai sintetik. Sintetik terdiri dari tiga hal yaitu saling terhubung, sebab-akibat(causalitas), dan dunia presepsi. Karena adanya sintetik maka dapat menghasilkan sifat analitik yang bersifat apriori dan a posteriori. Nah, apa itu apriopri? Apriori merupakan sesuatu yang ada didalam pikiran sehingga dapat menghubungkan antara ide satu dengan ide yang lainnya walupun tak berwujud. Misalnya adalah Seorang dokter tanpa tatap muka dengan pasien dapat memberi resep kepada pasien dengan mengetahui gejala-gejala dari pasien tersebut. Lalu, apakah a posteriori itu?  A posteriori merupakan sesuatu yang ada siluar pikiran dan dapat diketahui setelah melihat ataupun merasakan. Misalnya dokter hewan tidak bisa mendiagnosis sakitnya sebelum melihat dan memeriksa langsung dari hewan tersebut. Kedua sifat apriori dan a posteriori inilah muncul suatu aliran rasionalisme dengan tokohnya adalah renedeskrates.Sedangkan pada sintetik lahirlah sebuah aliran empirisme dengan tokoh david hum.
Dunia pada saat itu terbagi menjadi sisi rasionalisme dan empirisme. Kedua aliran ini saling beradu untuk menunjukan kebenarannya sehingga pada tahun 1671 ditengahi oleh Immanuel Kant. Kant mengatakan bahwa antara rasionalisme dan empirisme merupakan suatu kebenaran, tetapi masing-masing mempunyai kelemahannya. Maka antara rasionalisme dan empirisme keduanya harus saling bersinergi maka munculah aliran sinteti a priori. Sintetik a priori berasal dari kata sintetik yang artinya cobalah dan a priori yang artinya adalah pikirkanlah. Maka sebenar-benarnya filsafat ilmu itu adalah pikirkan pengalamanmu dan kerakanlah pikiranmu.  Jadi kondisi seperti ini bersifat formal maka lahirlah Formalism dengan tokoh Hilbert, bersifat logis maka lahir aliran Logisisme dengan tokoh Ultran Traso. Kedua sifat ini jika dinaikan maka akan menjadi trasendent atau dikenal dengan trasendentalinisme (diluar jangkauan pikiran). Diri kita adalah trasendent bagi adik-adik kita, sebab adik kita tidak pernah tahu semua apa yang kita pikirkan. Maka para dewa itu adalah trasendent bagi para daksa, pemimpin adalah trasendent bagi yang dipimpinnya, dan seterusnya.
Identitas bersifat tunggal atau bersifat satu kebenarannya. Rumus itu satu saja. Misalnya dalil Phytagoras satu saja tak tergantung ruang dan waktu. Disini maksudnya dalil phytagoras memiliki kebenaran satu tak memandang siapa yang menggunakan dalil phytagoras tersebut. Misalnya Dalil phytagoras mau dipakai orang muda, orang tua, gadis cantik tetap sama kebenarannya satu atau tunggal. Dari ranah spiritual maha tunggal adalah Tuhan maka lahirlah paham tunggal yaitu monisme (maha tunggal), maksudnya adalah keseluruhannya itu adalah kuasa Tuhan. Ini sangat mudah kita pahami, sebab ini kemistri dengan dunia kita. Pada dasarnya dunia ini berdimensi, yang terdiri atas 4 dimensi yaitu material, formalitas, normatif dan spritual. Struktur dimensi ini sangatlah cocok untuk negara kita yaitu Indonesia. Karena pada dimensi ini meletakkan Spiritual sebagai tiang tertinggi dari suatu kehidupan. Namun, dengan segala macam pernak-perniknya diantara zaman tetap dan berubah sebenarnya muncul zaman kegelapan. Zaman kegelapan merupakan zaman dimana kebenaran milik gereja. Orang awan tidak boleh bicara mengenai kebenaran apalagi mengclaim kebenaran. Salah satunya sisa-sisa peninggalan adalah geosentris menuju heliosentris. Gereja berpendapat bumi adalah pusat dari alam semesta. Pada saat itu munculah revolusi copernicus yaitu seorang ilmuan yang bernama Copernicus dia menyelidiki dan menuliskan temuanya, tetapi disembunyikan. Ia akan membantah keyakinan yang dimiliki oleh gereja. Copernicus mengatakan bahwa pusat bukan bumi tetapi pusat adalah matahari. Bumi sebenarnya bergerak menuju porosnya. Selama hidup jika dari perputaran bumi maka posisi kita tak akan sama karena bumi berputar mengelilingi matahari.
Pada era itu muncul pemuda dari Perancis yang bernama Aguste Compte pada 2 abad yang lalu. Compte mempunyai pemikiran yaitu bagi compte di dunia ini butuh yang konkret-konkret saja. Dalam membangun dunia tidak bisa berlandasan agama sebab agama itu tidak logis atau tidak rasional. Dalam membangun dunia kita butuh yang logis maka agama diletakkan paling bawah, di atasnya adalah filsafat. Sebenar-benernya membangun dunia adalah mengunakan metode positivisme atau saintific. Ini adalah benang merah dari kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan awal dari agama di marginalkan. Pengembang kurikulum apakah tidak mengerti asal-usul dari kurikulum 2013. Inilah yang disebut dengan fenomena aguste comte. Dengan aliran ini kemajuannya sangat pesat dibanding dengan material, formal, formatif, dan spiritual. Dampak dari aliran aguste comte menembus dunia Indonesia adalah terjadinya revolusi industri. Tanpa kita sadari menjelma menjadi archaic, Tradisional, feudal, modern, Post modern, post-post modern, dan Power now ( Kontemporer). Indonesia mempunyai cita-cita yang besar, tetapi kenyataannya kecil. Di dunia power now spiritual diletakkan di paling bawah. Padahal Spritual menjadi tiang atau pondasi setiap individu. Misalnya saja negara belanda, jika belanda meletakkan dasar agama sebagai pondasinya maka sampai sekarang Belanda bisa masih menjajah Indonesia. Paham ini di dukung oleh aliran-aliran yang terdiri atas pragmatisme, hedonisme, behaverionisme, utilitarianisme, materialsme dan liberalisme, dimana kesemua aliran ini mementingkan kebermanfaatan. Pada era sekarang ini mayoritas individu di Indonesia terkooptasi oleh dunia barat. Misalnya akses internet itu terasnya Powernow. Setiap hari kita dibawah pengaruh itu. Fenomena Aguste compte ini sudah menyebar dalam kehidupan kita. Sebagai contoh adalah penggunaan Handphone.  Pada era ini hampir semua orang di dunia ini punya HP. Seseorang membeli HP baru dengan asik nya menginstall aplikasi-aplikasi sampai waktu sholat terlewatkan. Ini merupakan contoh dari Fenomena compte yaitu memilih dunia dari pada akhirat. Di dunia timur punya solusinya untuk meminimalisir fenomena compte yaitu berdoalah seakan-akan mati besok dan berusahalah seakan-akan masih hidup seribu tahun lagi.
Fenomena Compte jika dikaitkan dengan kurikulum 2013, Indonesia semakin hari semakin lemah, mau tidak mau Indonesia mengikuti barisan Powernow. Saintific itu hanya fenomena menajam saja dari fenomena yang lain. Saintific hanyalah 1/3 dari dunia. Sebenarnya scientific itu Cuma simbolnya saja yang dikembangkan tidak scientific. Pengembangan hanya berdasarkan ego kepentingan suatu kelompok. Secara fundamental masalahnya adalah scientific itu adalah pembuatan slogan yang enak tetapi sebenarnya tidak enak. Slogan itu terkenal dengan 5M yaitu mengamati, menanya, mengasosiasi, mencoba, mengkomunikasi. Pada aspek menanya tidak memiliki makna apapun dan menjadi pertanyaan adalah  apa yang harus dipertanyakan? Dalam hal ini Gurunya kebingungan dan pengembangnya juga bingung. Dari aguste compte ada empat stage dalam scientific yang terakhir adalah history. Dalam Kurikulum 2013 history dihilangkan dan diganti dengan mengkomunikasikan.  Maka karna Indonesia bangsa yang lemah maka pendidikan yang mana harus dihistorikan maka ini diluar ranahnya tetapi merupakan ranah dari humaniora. Inilah sebenar-benarnya akibat dari dampak PowerNow yang bertujuan untuk mengeskploitasi Indonesia. Demikian Refleksi kedelapan ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan saya dapat terus mereflesikan kuliah filsafat di pertemuan berikutnya. Terimakasih.

Senin, 19 Oktober 2015

Dual Kalipun Aku Tak Sanggup

Refleksi ini merupakan refleksi kelima kuliah filsafat pada selasa, 13 Oktober 2015 di Gedung Pascasarjana UNY lantai 3 Ruang 305B dengan Prof. Dr. Marsigit, MA. Pada kesempatan kali ini saya memberikan judul “ Dua kalipun Aku tak sanggup” Judul yang saya ambil karena sampai saat ini untuk tes yang kedua saya belum sanggup untuk memahami sedikit ilmu dari filsafat. Pada perkuliahan kali ini, pembelajaran diawali dengan tes jawab singkat mengenai istilah filsafat . Fungsi dari Tes jawab singkat ini adalah mengadakan dari yang mungkin ada. Tes jawab singkat terdiri dari 50 soal. Berikut merupakan tes filsafat pada pertemuan kali ini.
1. Filsafatnya yang tersembunyi = metafisik
2. Filsafatnya yang kelihatan = realisme
3. Filsafatnya yang terdengar = realisme
4. Filsafatnya yang dapat dipegang = realisme
5. Filsafatnya tujuan = idealisme
6. Filsafatnya hasil = sintesis
7. Filsafatnya beda = kontradiksi
8. Filsafatnya arwah = nomena
9. Filsafatnya yang ada = eksistensianisme
10. Filsafatnya yang sama = identitas
11. Filsafatnya dewa = transenden
12. Filsafatnya dalam = intensif
13. Filsafatnya yang luas = ekstensif
14. Filsafatnya yang tinggi = transenden
15. Filsafatnya yang jauh = teleologi
16. Filsafatnya yang besar = makrokosmis
17. Filsafatnya yang kecil = mikrokosmis
18. Filsafatnya jika maka = koherentism
19. Filsafatnya berpikir = sintesis
20. Filsafatnya konsisten = koherentisme
21. Filsafatnya tautologi = koherentisme
22. Filsafatnya matematika murni = koherentisme
23. Filsafatnya bertanya = dialegtisme
24. Filsafatnya menjawab = dialegtisme
25. Filsafatnya yang tetap = permenideanisme
26. Filsafatnya yang berubah = herakritosianisme
27. Filsafatnya yang pasti = absolutisme
28. Filsafatnya yang tidak pasti = relativisme
29. Filsafatnya mencoba = saintisism
30. Filsafatnya pengalama = empitisme
31. Filsafatnya khayalan = fiksionisme
32. Filsafatnya ragu-ragu = skeptisisme
33. Filsafatnya batu = magdalisme
34. Filsafatnya cinta = romantisism
35. Filsafatnya manfaat = utilitarianisme
36. Filsafatnya pasrah = vatalisme
37. Filsafatnya berusaha = vitalisme
38. Filsafatnya bahasa = analitik
39. Filsafatnya yang benar = epistimologi
40. Filsafatnya yang salah = validisme
41. Filsafatnya memilih = reduksionisme
42. Filsafatnya terpisah = separatisme
43. Filsafatnya tuntas = praktikalisme
44. Filsafatnya menentukan = diterminisme
45. Filsafatnya sejarah = hegorianisme
46. Filsafatnya kuasa = makiafelianisme
47. Filsafatnya mengabaikan = abstaksi
48. Filsafatnya efisien = pragmatisme
49. Filsafatnya sebab utama = primakausa
50. Filsafatnya sebab pertama = primakausa
Setelah tes jawab singkat selesai, kita diberi kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan Boleh bebas tak terbatas mengenai apapun yang ingin ditanyakan.
1. Pertanyaan pertama dari Azmi: “ Apakah jodoh bersifat relatif?
Jawab: “ Pertama kita memposisikan dulu bahwa berfilsafat itu adalah oleh pikir. Kalau dilihat dari tatatran dimensinya urutan dimensi dari bawah menuju dimensi paling atas adalah material, formal, normatif, dan spriritual. Mengenai masalah jodoh perlu penjelasan apakah jodoh itu mengenai perkawinan, percintaan atau pernikahan. Karena sehebat-hebatnya pikiranku tidaklah mungkin mampu menjelaskan semua perasaanku, sehebat-hebat perkataanku tidaklah mungkin mampu untuk mengucapkan semua pikiranku, sehebat-hebat tulisanku tidaklah mungkin mampu menuliskan apa yang ku ucapkan, sehebat-hebat, selihai-lihainya, segesit-gesit, selincah-lincah tindakanku tidaklah mungkin mampu untuk melaksanakan semua tulisan apalagi kata-kataku, apalagi pikiranku. Itulah bukti bahwa kita tak akan mampu menjangkau spiritualitas kita. Pernikahan itu merupakan struktur lengkap yang mencangkup material, formal, normatif, dan spiritualnya. Jadi ada bagian dari pernikahan itu dimana anda tidak mampu memikirkannya. Contoh: “Kenapa, aku harus bertemu denganmu dan menjadi istri(suamimu)?”. Ketika undangan disebar tapi ternyata tidak jadi menikah. Dari contoh itu ada unsur lain mengenai jodoh yang kita tidak mampu untuk memikiran. Nah, karena kita tidak mampu memikirkannya diatas dari filsafat adalah spiritual untuk menggapainya tetapkanlah dengan Doa sebagai kekuatan kita. Tetepi, kalau kita hanya memikirkan saja masalah mengenai pernikahan maka akan timbul variasi karena spiritual di langgit tumbuh tinggi, sedangkan filsafat hanya dibumi menggapai langit pun tidak akan pernah sampai. Maka barangsiapa menghadapi urusan langit dan bumi hanya berangkat dari bumi saja pasti akan banyak salahnya. Misalnya menerjemahkan jodoh sebagai cinta. Cinta itu diekstensikan sebagai “ Aku mencintai wanita”. Cintaa yaa cinta apa hanya lelaki mencintai wanita, apa tidak boleh lelaki mencintai lelaki? Itu karena dunia tidak didukung oleh spiritualitas. Jika diturunkan lebih jauh lagi, jodoh tidak hanya berlaku bagi manusia, bisa berlaku bagi hewan dan tumbuhan. Misalkan saja hewan monyet, seekor monyet tidak mempermasalahkan jodohnya. Mereka biasa-biasa saja ketika mengetahui pasangan yang baru saja menjadi jodohnya, tidak lama kemudian sudah berjodoh dengan yang lain. Begitu juga dengan tumbuhan, biji-bijian juga berjodoh dengan pohon, karena biji cipir kalau tumbuh mereka akan melilitkan pohon berlawanan dengan arah jarum jam ke pohonnya. Setiap manusia mempunyai potensi untuk menikah. Potensi jika diturunkan akan menjadi insting pada hewan dan menjadi kalau dinaikkan kompleksitasnya menjadi manusia intuisi. Intuisi itu adalah pengalaman.
Penggunaan bahasa di dunia juga harus disesuaikan dengan levelnya, kata-kata yang menyesuaikan keadaan itu yang disebut dengan menembus ruang dan waktu. Orang cerdas secara filsafat adalah orang yang sopan terhadap ruang dan waktu. Etika dia ngomong statistik bicara statistik. Relativitisme dalam statistik itu berubah menjadi probability. Tiadalah berfilsafat kalau tidak berpedoman pada pikiran para dewa. Kalau mengupas jodoh secara filsafat bacalah pikiran para filsuf mengenai jodoh. Tidak langsung jodoh tapi mengenairomantisism. Menurut kaum romantisism orang yang paling berkuasa adalah orang yang paling romantis.
2. Pertanyaan Kedua dari Aida: “Bagaimana jika tujuan hidup tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan yang terjadi?”
Jawab: Tujuan itu dalam kacamata filsafat disebut idealis. Idealis itu merupakan segala sesuatu yang ada didalam pikiran. Banyak perspektif dari filsafat yang diturunkan misalnya dari sisi tesis dan anti-tesis. Jadi, usaha berpikir tidak lain tidak bukan dari dua unsur atau banyak yang kita sintesiskan. Misalnya sintesis antara berhasil dan belum berhasil. Sintesis antara kenyataan dan tujuannya. Antara takdir dan faktanya. Antara sehat dan sakit. Kemudian kalau dinaikan menjadi keranah spiritual maka yang dipikirkan manusia itu semua bersifat relatif tidak ada yang bersifat absolut. Karena relatif maka manusia tidak mengerti bahwa kriteria keberhasilan itu punya perspektif yang lain yang dia tidak menyadarinya. Misalnya setelah dia gagal disatu tempat kemudian dia beersifat tawakal dan energinya masih tetap bertahan, maka tetap pada usahanya dia menemukan keberhasilan. Tetapi, maknanya menjadi berlipat ganda. Contoh adalah dulu rumah beliau terlihat angker karena ada bambu yang menjorok di rumah yang apabila hujan akan roboh dan terkadang membuat genteng roboh, dan listriknya putus. yang punya adalah orang asli situ tetapi rumahnya agak jauh. Tenyata orang yang punya tidak ikhlas apalagi Pak marsigit merupakan orang baru dikampung itu untuk menebang bambu itu karena tidak sesuai dengan hari yang menjadi pantangna pada tetangga itu. Pantang bermusuhan dengan tetangga. Kalu ingin damai dunia akhirat pantang bermusuhan dengan tetangga. Bagaimanapun caranya pantang bermusuhan dengan tetangga. Kalau sampai ini terjadi tidak akan bahagia. Tetangga sama halnya sebbagai saudara.. Kemudian bedoa setiap saat bedoa kepada Tuhan untuk meminta solusi akhirnya setelah setahun rupanya anaknya pemilik pohon tidak mau dibuatkan rumah disini. Akhirnya rumahnya dijual dan pohonya ditebang oleh pemilikk baru. Ini merupakan solusi yang diberikan Allah dari kesabaran mengahadapai masyaraat. Kesimpulan kita pada Tuhan adalah kesimpulan yang possitive thinking jangan sampai negative tingking. Negative thingking merupakan penyakit filsafat. Kalau dalam bahasa jawa artinya hege mingso yaitu mendahului kehendak Tuhan. Karena Allah selalu memberikan apa yang terbaik buat hamba Nya.

Senin, 12 Oktober 2015

Ketidaksempurnaan yang Jelas Tergambar

Refleksi ini merupakan refleksi ke empat dalam kuliah filsafat oleh Prof. Dr Marsigit,MA pada Pascasarjana Prodi Pendidikan Matematika Kelas A pada hari Selasa tanggal 29 September 2015 pukul 11.10 – 12.50 WIB di Ruang Kuliah R.305B Gedung Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Pada kesempatan kali ini merupakan kesempatan yang berbeda dari biasanya kenapa tidak? Karena pada kesempatan ini di adakan tes jawab singkat mengenai filsafat?

Contoh soal yang diberikan:
1. " Siapa namamu?"
2. " Siapa Ibumu?"
2. " Siapa Bapakmu?"
4. " Dari mana kamu?"
5. " Berapa umurmu?"

Dari contoh pertanyaan berikut akupun tak mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Jika dilihat dari aspek pertanyaan kelihatannya itu bukan pertanyaan yang susah. Terkadang kita itu menyepelekan hal yang mudah. Padahal hal yang mudah itu belum tentu kita bisa lakukan. Sebagai manusia Alangkah Hinanya Jika kita senantiasa sombong. Apa yang bisa kita sombongkan sebagai manusia. Jika menjawab soal siapa namamu saja tida bisa. Memahami diri kita belum mampu. Apa yang pantas kita sombongkan. Astaqfirullah, Ya Allah maafkan hambamu jikalu sering berbuat sombong. Tes jawab singkat ini sebagai gambaran saya bahwa saya belum punya ilmu apa". masih banya yang harus saya pelajari. Terimakasih Prof untuk semua ilmu yang engkau berikan.

Minggu, 11 Oktober 2015

Target dan Strategi Pencapaian Kuliah Metodologi Penelitian

Pada kesempatan kali ini saya terinspirasi oleh Ibu Dr. Heri Retnawati. Beliau adalah Dosen saya pada mata kuliah Metodologi Penelitian. Saya mulai memikiran bagaimana Beliau bisa sukses seperti sekarang. Hal yang saya petik adalah bagaimana beliau menghargai hal yang sangat kecil. ternyata Hal yang sangat kecil berbuah sangat luar biasaa pada kehidupan kedepannya. Hal sangat kecil seperti apa yang Beliau lakukan? Beliau menuliskan apa saja yang akan direncanakannya. Saya sering merencanakan suatu hal, tetapi disini saya tidak pernah menuliskannya. Alhasil saya terkadang lupa apa yang saya rencanakan kemaren. Waktu yang kadang menyadarkanku ternyata saya telah lalai. Mulai saat ini saya belajar untuk merencakana hal-hal apa saja yang akan saya lakukan untu kehidupan saya. Namun, dalam postingan kali ini saya hanya akan menulisan rencana dan strategi apa saja yang saya lakukan untuk kuliah metodologi Penelitian.




OKTOBER

Target
Strategi
Minggu Pertama
1.    Dapat merumuskan masalah, sehingga dapat membuat  keranga latar belakang
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-4 September 2015
3.    Membuat Tugas minggu 1 Oktober
4.    Mengerti jenis-jenis Penelitian
1.    Identifikasi masalah-maslah di dunia pendidikan
2.    Membaca ulang tugas minggu ke-4 September dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dan buku dari internet ataupun buku metodologi penelitian untuk mengerjakan tugas minggu 1 Oktober
4.    Membaca referensi jenis-jenis penelitian dari power point yang diberikan oleh dosen, internet atau buku metodologi penelitian.
Minggu Kedua
1.    Paham jenis-jenis penelitian
2.    Memperbaiki tugas minggu 1 Oktober
3.    Membuat tugas minggu ke 2 Oktober
4.    Mengerti kajian pustaka
1.     Membaca referensi mengenai jenis-jenis penelitian dan bertanya dengan dosen/ teman apabila masih belum jelas mengenai jenis-jenis penelitian
2.     Membaca ulang tugas minggu 1 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.     Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 2 Oktober
4.     Membaca referensi mengenai kajian pustaka dari berbagai sumber.
Minggu Ketiga
1.    Paham kajian Pustaka
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-2 Oktober
3.    Membuat tugas minggu ke empat Oktober
4.    Mengerti Kerangka Berpikir
1.    Membaca referensi mengenai kajian pustaka dan bertanya pada dosen/teman apabila masih belum jelas mengenai kajian pustaka.
2.    Membaca ulang tugas minggu 2 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 3 Oktober
4.    Membaca referensi mengenai erangka berpikir dari berbagai sumber

Minggu Keempat
1.    Memahami kerangka berpikir
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-3 Oktober
3.    Membuat tugas minggu ke-4 Oktober
4.    Mengerti teknik pengumpulan data
1.    Membaca referensi mengenai kerangka berpikir  dan bertanya pada dosen/teman apabila masih belum jelas mengenai kajian pustaka.
2.    Membaca ulang tugas minggu 3 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 4 Oktober
4.    Membaca referensi mengenai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber

Minggu Kelima
1.    Paham teknik pengumpulan data
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-4
3.    Membuat tugas minggu ke-5
4.    Mengerti instrumen penelitian
1.    Membaca referensi mengenai teknik pengumpulan data dan bertanya pada dosen/teman apabila masih belum jelas mengenai kajian pustaka.
2.    Membaca ulang tugas minggu 4 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 5 Oktober
4.    Membaca referensi mengenai instrumen penelitian  dari berbagai sumber