Senin, 19 Oktober 2015

Dual Kalipun Aku Tak Sanggup

Refleksi ini merupakan refleksi kelima kuliah filsafat pada selasa, 13 Oktober 2015 di Gedung Pascasarjana UNY lantai 3 Ruang 305B dengan Prof. Dr. Marsigit, MA. Pada kesempatan kali ini saya memberikan judul “ Dua kalipun Aku tak sanggup” Judul yang saya ambil karena sampai saat ini untuk tes yang kedua saya belum sanggup untuk memahami sedikit ilmu dari filsafat. Pada perkuliahan kali ini, pembelajaran diawali dengan tes jawab singkat mengenai istilah filsafat . Fungsi dari Tes jawab singkat ini adalah mengadakan dari yang mungkin ada. Tes jawab singkat terdiri dari 50 soal. Berikut merupakan tes filsafat pada pertemuan kali ini.
1. Filsafatnya yang tersembunyi = metafisik
2. Filsafatnya yang kelihatan = realisme
3. Filsafatnya yang terdengar = realisme
4. Filsafatnya yang dapat dipegang = realisme
5. Filsafatnya tujuan = idealisme
6. Filsafatnya hasil = sintesis
7. Filsafatnya beda = kontradiksi
8. Filsafatnya arwah = nomena
9. Filsafatnya yang ada = eksistensianisme
10. Filsafatnya yang sama = identitas
11. Filsafatnya dewa = transenden
12. Filsafatnya dalam = intensif
13. Filsafatnya yang luas = ekstensif
14. Filsafatnya yang tinggi = transenden
15. Filsafatnya yang jauh = teleologi
16. Filsafatnya yang besar = makrokosmis
17. Filsafatnya yang kecil = mikrokosmis
18. Filsafatnya jika maka = koherentism
19. Filsafatnya berpikir = sintesis
20. Filsafatnya konsisten = koherentisme
21. Filsafatnya tautologi = koherentisme
22. Filsafatnya matematika murni = koherentisme
23. Filsafatnya bertanya = dialegtisme
24. Filsafatnya menjawab = dialegtisme
25. Filsafatnya yang tetap = permenideanisme
26. Filsafatnya yang berubah = herakritosianisme
27. Filsafatnya yang pasti = absolutisme
28. Filsafatnya yang tidak pasti = relativisme
29. Filsafatnya mencoba = saintisism
30. Filsafatnya pengalama = empitisme
31. Filsafatnya khayalan = fiksionisme
32. Filsafatnya ragu-ragu = skeptisisme
33. Filsafatnya batu = magdalisme
34. Filsafatnya cinta = romantisism
35. Filsafatnya manfaat = utilitarianisme
36. Filsafatnya pasrah = vatalisme
37. Filsafatnya berusaha = vitalisme
38. Filsafatnya bahasa = analitik
39. Filsafatnya yang benar = epistimologi
40. Filsafatnya yang salah = validisme
41. Filsafatnya memilih = reduksionisme
42. Filsafatnya terpisah = separatisme
43. Filsafatnya tuntas = praktikalisme
44. Filsafatnya menentukan = diterminisme
45. Filsafatnya sejarah = hegorianisme
46. Filsafatnya kuasa = makiafelianisme
47. Filsafatnya mengabaikan = abstaksi
48. Filsafatnya efisien = pragmatisme
49. Filsafatnya sebab utama = primakausa
50. Filsafatnya sebab pertama = primakausa
Setelah tes jawab singkat selesai, kita diberi kesempatan untuk bertanya. Pertanyaan Boleh bebas tak terbatas mengenai apapun yang ingin ditanyakan.
1. Pertanyaan pertama dari Azmi: “ Apakah jodoh bersifat relatif?
Jawab: “ Pertama kita memposisikan dulu bahwa berfilsafat itu adalah oleh pikir. Kalau dilihat dari tatatran dimensinya urutan dimensi dari bawah menuju dimensi paling atas adalah material, formal, normatif, dan spriritual. Mengenai masalah jodoh perlu penjelasan apakah jodoh itu mengenai perkawinan, percintaan atau pernikahan. Karena sehebat-hebatnya pikiranku tidaklah mungkin mampu menjelaskan semua perasaanku, sehebat-hebat perkataanku tidaklah mungkin mampu untuk mengucapkan semua pikiranku, sehebat-hebat tulisanku tidaklah mungkin mampu menuliskan apa yang ku ucapkan, sehebat-hebat, selihai-lihainya, segesit-gesit, selincah-lincah tindakanku tidaklah mungkin mampu untuk melaksanakan semua tulisan apalagi kata-kataku, apalagi pikiranku. Itulah bukti bahwa kita tak akan mampu menjangkau spiritualitas kita. Pernikahan itu merupakan struktur lengkap yang mencangkup material, formal, normatif, dan spiritualnya. Jadi ada bagian dari pernikahan itu dimana anda tidak mampu memikirkannya. Contoh: “Kenapa, aku harus bertemu denganmu dan menjadi istri(suamimu)?”. Ketika undangan disebar tapi ternyata tidak jadi menikah. Dari contoh itu ada unsur lain mengenai jodoh yang kita tidak mampu untuk memikiran. Nah, karena kita tidak mampu memikirkannya diatas dari filsafat adalah spiritual untuk menggapainya tetapkanlah dengan Doa sebagai kekuatan kita. Tetepi, kalau kita hanya memikirkan saja masalah mengenai pernikahan maka akan timbul variasi karena spiritual di langgit tumbuh tinggi, sedangkan filsafat hanya dibumi menggapai langit pun tidak akan pernah sampai. Maka barangsiapa menghadapi urusan langit dan bumi hanya berangkat dari bumi saja pasti akan banyak salahnya. Misalnya menerjemahkan jodoh sebagai cinta. Cinta itu diekstensikan sebagai “ Aku mencintai wanita”. Cintaa yaa cinta apa hanya lelaki mencintai wanita, apa tidak boleh lelaki mencintai lelaki? Itu karena dunia tidak didukung oleh spiritualitas. Jika diturunkan lebih jauh lagi, jodoh tidak hanya berlaku bagi manusia, bisa berlaku bagi hewan dan tumbuhan. Misalkan saja hewan monyet, seekor monyet tidak mempermasalahkan jodohnya. Mereka biasa-biasa saja ketika mengetahui pasangan yang baru saja menjadi jodohnya, tidak lama kemudian sudah berjodoh dengan yang lain. Begitu juga dengan tumbuhan, biji-bijian juga berjodoh dengan pohon, karena biji cipir kalau tumbuh mereka akan melilitkan pohon berlawanan dengan arah jarum jam ke pohonnya. Setiap manusia mempunyai potensi untuk menikah. Potensi jika diturunkan akan menjadi insting pada hewan dan menjadi kalau dinaikkan kompleksitasnya menjadi manusia intuisi. Intuisi itu adalah pengalaman.
Penggunaan bahasa di dunia juga harus disesuaikan dengan levelnya, kata-kata yang menyesuaikan keadaan itu yang disebut dengan menembus ruang dan waktu. Orang cerdas secara filsafat adalah orang yang sopan terhadap ruang dan waktu. Etika dia ngomong statistik bicara statistik. Relativitisme dalam statistik itu berubah menjadi probability. Tiadalah berfilsafat kalau tidak berpedoman pada pikiran para dewa. Kalau mengupas jodoh secara filsafat bacalah pikiran para filsuf mengenai jodoh. Tidak langsung jodoh tapi mengenairomantisism. Menurut kaum romantisism orang yang paling berkuasa adalah orang yang paling romantis.
2. Pertanyaan Kedua dari Aida: “Bagaimana jika tujuan hidup tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan yang terjadi?”
Jawab: Tujuan itu dalam kacamata filsafat disebut idealis. Idealis itu merupakan segala sesuatu yang ada didalam pikiran. Banyak perspektif dari filsafat yang diturunkan misalnya dari sisi tesis dan anti-tesis. Jadi, usaha berpikir tidak lain tidak bukan dari dua unsur atau banyak yang kita sintesiskan. Misalnya sintesis antara berhasil dan belum berhasil. Sintesis antara kenyataan dan tujuannya. Antara takdir dan faktanya. Antara sehat dan sakit. Kemudian kalau dinaikan menjadi keranah spiritual maka yang dipikirkan manusia itu semua bersifat relatif tidak ada yang bersifat absolut. Karena relatif maka manusia tidak mengerti bahwa kriteria keberhasilan itu punya perspektif yang lain yang dia tidak menyadarinya. Misalnya setelah dia gagal disatu tempat kemudian dia beersifat tawakal dan energinya masih tetap bertahan, maka tetap pada usahanya dia menemukan keberhasilan. Tetapi, maknanya menjadi berlipat ganda. Contoh adalah dulu rumah beliau terlihat angker karena ada bambu yang menjorok di rumah yang apabila hujan akan roboh dan terkadang membuat genteng roboh, dan listriknya putus. yang punya adalah orang asli situ tetapi rumahnya agak jauh. Tenyata orang yang punya tidak ikhlas apalagi Pak marsigit merupakan orang baru dikampung itu untuk menebang bambu itu karena tidak sesuai dengan hari yang menjadi pantangna pada tetangga itu. Pantang bermusuhan dengan tetangga. Kalu ingin damai dunia akhirat pantang bermusuhan dengan tetangga. Bagaimanapun caranya pantang bermusuhan dengan tetangga. Kalau sampai ini terjadi tidak akan bahagia. Tetangga sama halnya sebbagai saudara.. Kemudian bedoa setiap saat bedoa kepada Tuhan untuk meminta solusi akhirnya setelah setahun rupanya anaknya pemilik pohon tidak mau dibuatkan rumah disini. Akhirnya rumahnya dijual dan pohonya ditebang oleh pemilikk baru. Ini merupakan solusi yang diberikan Allah dari kesabaran mengahadapai masyaraat. Kesimpulan kita pada Tuhan adalah kesimpulan yang possitive thinking jangan sampai negative tingking. Negative thingking merupakan penyakit filsafat. Kalau dalam bahasa jawa artinya hege mingso yaitu mendahului kehendak Tuhan. Karena Allah selalu memberikan apa yang terbaik buat hamba Nya.

Senin, 12 Oktober 2015

Ketidaksempurnaan yang Jelas Tergambar

Refleksi ini merupakan refleksi ke empat dalam kuliah filsafat oleh Prof. Dr Marsigit,MA pada Pascasarjana Prodi Pendidikan Matematika Kelas A pada hari Selasa tanggal 29 September 2015 pukul 11.10 – 12.50 WIB di Ruang Kuliah R.305B Gedung Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Pada kesempatan kali ini merupakan kesempatan yang berbeda dari biasanya kenapa tidak? Karena pada kesempatan ini di adakan tes jawab singkat mengenai filsafat?

Contoh soal yang diberikan:
1. " Siapa namamu?"
2. " Siapa Ibumu?"
2. " Siapa Bapakmu?"
4. " Dari mana kamu?"
5. " Berapa umurmu?"

Dari contoh pertanyaan berikut akupun tak mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Jika dilihat dari aspek pertanyaan kelihatannya itu bukan pertanyaan yang susah. Terkadang kita itu menyepelekan hal yang mudah. Padahal hal yang mudah itu belum tentu kita bisa lakukan. Sebagai manusia Alangkah Hinanya Jika kita senantiasa sombong. Apa yang bisa kita sombongkan sebagai manusia. Jika menjawab soal siapa namamu saja tida bisa. Memahami diri kita belum mampu. Apa yang pantas kita sombongkan. Astaqfirullah, Ya Allah maafkan hambamu jikalu sering berbuat sombong. Tes jawab singkat ini sebagai gambaran saya bahwa saya belum punya ilmu apa". masih banya yang harus saya pelajari. Terimakasih Prof untuk semua ilmu yang engkau berikan.

Minggu, 11 Oktober 2015

Target dan Strategi Pencapaian Kuliah Metodologi Penelitian

Pada kesempatan kali ini saya terinspirasi oleh Ibu Dr. Heri Retnawati. Beliau adalah Dosen saya pada mata kuliah Metodologi Penelitian. Saya mulai memikiran bagaimana Beliau bisa sukses seperti sekarang. Hal yang saya petik adalah bagaimana beliau menghargai hal yang sangat kecil. ternyata Hal yang sangat kecil berbuah sangat luar biasaa pada kehidupan kedepannya. Hal sangat kecil seperti apa yang Beliau lakukan? Beliau menuliskan apa saja yang akan direncanakannya. Saya sering merencanakan suatu hal, tetapi disini saya tidak pernah menuliskannya. Alhasil saya terkadang lupa apa yang saya rencanakan kemaren. Waktu yang kadang menyadarkanku ternyata saya telah lalai. Mulai saat ini saya belajar untuk merencakana hal-hal apa saja yang akan saya lakukan untu kehidupan saya. Namun, dalam postingan kali ini saya hanya akan menulisan rencana dan strategi apa saja yang saya lakukan untuk kuliah metodologi Penelitian.




OKTOBER

Target
Strategi
Minggu Pertama
1.    Dapat merumuskan masalah, sehingga dapat membuat  keranga latar belakang
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-4 September 2015
3.    Membuat Tugas minggu 1 Oktober
4.    Mengerti jenis-jenis Penelitian
1.    Identifikasi masalah-maslah di dunia pendidikan
2.    Membaca ulang tugas minggu ke-4 September dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dan buku dari internet ataupun buku metodologi penelitian untuk mengerjakan tugas minggu 1 Oktober
4.    Membaca referensi jenis-jenis penelitian dari power point yang diberikan oleh dosen, internet atau buku metodologi penelitian.
Minggu Kedua
1.    Paham jenis-jenis penelitian
2.    Memperbaiki tugas minggu 1 Oktober
3.    Membuat tugas minggu ke 2 Oktober
4.    Mengerti kajian pustaka
1.     Membaca referensi mengenai jenis-jenis penelitian dan bertanya dengan dosen/ teman apabila masih belum jelas mengenai jenis-jenis penelitian
2.     Membaca ulang tugas minggu 1 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.     Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 2 Oktober
4.     Membaca referensi mengenai kajian pustaka dari berbagai sumber.
Minggu Ketiga
1.    Paham kajian Pustaka
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-2 Oktober
3.    Membuat tugas minggu ke empat Oktober
4.    Mengerti Kerangka Berpikir
1.    Membaca referensi mengenai kajian pustaka dan bertanya pada dosen/teman apabila masih belum jelas mengenai kajian pustaka.
2.    Membaca ulang tugas minggu 2 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 3 Oktober
4.    Membaca referensi mengenai erangka berpikir dari berbagai sumber

Minggu Keempat
1.    Memahami kerangka berpikir
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-3 Oktober
3.    Membuat tugas minggu ke-4 Oktober
4.    Mengerti teknik pengumpulan data
1.    Membaca referensi mengenai kerangka berpikir  dan bertanya pada dosen/teman apabila masih belum jelas mengenai kajian pustaka.
2.    Membaca ulang tugas minggu 3 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 4 Oktober
4.    Membaca referensi mengenai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber

Minggu Kelima
1.    Paham teknik pengumpulan data
2.    Memperbaiki tugas minggu ke-4
3.    Membuat tugas minggu ke-5
4.    Mengerti instrumen penelitian
1.    Membaca referensi mengenai teknik pengumpulan data dan bertanya pada dosen/teman apabila masih belum jelas mengenai kajian pustaka.
2.    Membaca ulang tugas minggu 4 Oktober dan memperbaiki tugas yang belum baik
3.    Membaca referensi dari buku atau dari internet untuk menyelesaikan tugas minggu 5 Oktober
4.    Membaca referensi mengenai instrumen penelitian  dari berbagai sumber


 



Senin, 28 September 2015

MENGGAPAI FILSAFAT LEBIH DEKAT



MENGGAPAI FILSAFAT LEBIH DEKAT

Pada kesempatan ini, saya akan merefleksikan hasil dari kuliah filsafat pada Selasa tanggal 22 september 2015, pukul 11.10-12.50, diruangan 305b lantai tiga gedung pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta berlangsung dengan dosen pengampu bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. Pada kesempatan kali ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa bagi kami karena diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat dengan filasat dengan bertanya dan dijawab langsung oleh Prof. Dr Marsigit, M.A.
Pertanyaan Pertama: Oyaa, Terima kasih bapak. Menurut sudut pandang Filsafat, mengapa siswa cenderung memilih cara yang mudah atau instan dalam pembelajaran matematika?
Jawaban Pertanyaan Pertama:  Menanggapi pertanyaan di atas, Prof. Dr Marsigit,MA mengemukakan bahwa pertanyaan yang disampaikan berbuhungan dengan budaya instan. Budaya instan ini telah dipublikasikan di  https://uny.academia.edu/MarsigitHrd oleh Prof. Dr Marsigit,MA dalam tulisan yang berjudul Narasi Besar Politik dan Ideologi Pendidikan Dunia. Intisari dari budaya instan ini adalah atmosfer sudah pada kehidupannya atau sudah saatnya kehidupan seperti itu. Artinya kalau ada yang mudah kenapa yang dipersulit. Perjuangan dalam arti yang lain adalah ketika kita mengubah tesis menjadi anti-tesisnya maksudnya disini adalah kalau bisa mengerjakan yang sulit mengapa harus mengerjakan yang mudah. Hal tersebut didengar tak begitu jelas, diucapkan mudah, tetapi dilaksanakan mudah. Silakan anda uji diri anda, jika dari dua kata ini dilaksanakan maka dampaknya sangat luar biasa yakni dunia akhirat. Secara psikologis, ada dua keadaan (1) “kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit” dan (2) “kalau bisa mengerjakan yang sulit kenapa harus yang mudah” ini adalah keadaan yang berbeda. Jika idenfikasi perbedaan  kedua pernyataan ini keadaan (1) cenderung dalam keadaan senang dalam zona aman dan nyaman, tidak mau meningkatkan kemampuan diri, santai, mudah menyerah, tidak ingin berkembang, tak mau bekerja keras, motivasi rendah, defensif, tidak kreatif, masa bodoh, nrimo ing pandum dan lain-lain.  Sementara keadaan (2) merupakan cenderung mempunyai sifat mau berkembang, kreatif, cerdas, bekerja keras, ingin tau tinggi, motivasi tinggi, dan lain-lain. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa hidup itu adalah interaksi antara keadaan pertama dan keadaan kedua. Jika menginginkan kehidupan yang lebih baik maka hijrahlah dari keadaan (1) ke keadaan (2).
Pertanyaan Kedua: Bagaimana pandangan filsafat tentang pendapat “stephan walking” tentang penciptaan alam semesta kaitanya dengan objek filsafat “Ada dan yang Mungkin Ada”?
Jawaban Pertanyaan Pertanyaan Kedua:
Menanggapi pertanyaan kedua Prof. Dr Marsigit,MA mengklarifikasi bahwa pertanyaan tersebut mengenai pandangan agama tentang nenek moyang manusia adalah seekor kera seperti yang diungapkan dalam teori Darwin. Dalam agama apapun percaya bahwa manusia pertama di dunia adalah Adam AS. Menurut teori darwin mengenai evolusinya “jika tiap hari manusia belajar untuk terbang maka dalam kurun waktu yang cukup lama kegiatan ini dilakukan maka dalam kurun waktu bermilyar-milyar keturunan, bermilyar-milyar tahun harapannya nanti manusia mempunyai kemampuan untuk terbang.” ini adalah salah satu yang disebut teori potensi yang menetapkan bahwa yang didunia ini bisa berubah (teologi). Segala sesuatu mengalami perubahan. Tiadalah di dunia ini yang tidak mengalami perubahan. Jika hanya melihat teori seperti itu saja, maka hanya melihat dari setengah dunia. Karena separuh yang lain adalah teori bahwa segala sesuatu bersifat tetap. Tiadalah di dunia yang bersifat tidak tetap. Masing-masing mempunyai tokohnya. Teori yang mengenai semua yang bersifat tetap dipelopori oleh Permenides. Sedangkan teori yang meyakini bahwa segala sesuatu di dunia selalu berubah yaitu Heraclitos. Jika dilihat dari kacamata filsafat maka sebenarnya hidup itu adalah interaksi antara yang tetap dan berubah. Dengan demikian kita selalu bisa mendefinisikan apa itu hidup, berdasarkan yang ada dan yang mungkin ada. Definisi hidup dapat diuraikan sebanyak sifat yang dimiliki oleh yang ada dan yang mungkin ada. Dari kacamata filsafat bahwa hidup itu tetap misalnya pada ketetapan hati seseorang dalam meyakini agamanya. Dapat dikatakan bahwa dalam diri manusia terdapat unsur yang tetap dan yang  berubah. Hidup itu adalah tetap dalam perubahan, dan berubah dalam ketetapan. Kembali mengenai pendapat Hawking tentang penciptaan alam semesta, dijelaskan bahwa dalam filsafat itu tidak ada benar, dan tidak ada salah, yang tepat adalah sesuai atau tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Dalam spiritual kebenaran bersifat absolut, agama adalah suatu dogma ini suatu kebulatan seperti ini tinggal dilaksanakan. Kitab suci sudah tidak bisa diubah atau diamandemen seperti UUD. Dogma mengenai bahwa nabi Adam AS sebagai nenek moyang kita. Orang timur yang di donimasi oleh agama biasanya berfikirnya final, sedangkan orang barat itu berfikirnya open-ended. Boleh kita berfikir tetapi secara agama tetap harus diakui. Allah itu sebagai tuhan yang harus kita percayai. Jika engkau ingin ketemu Tuhan iyu dikerjakanlah tidak bisa kita hanya sekedar dalam memikirkan.
Pertanyaan Ketiga: Bagaimana dengan teori big bang (proses terbentuknya alam semesta) dan teori darwin tersebut kita benarnakan,?
Jawaban Pertanyaan Ketiga:
Teori dapat dikenal karena beberapa alasan:  Teori ditulis serta memiliki rujukan, di publikasikan, terdapan sponsoship, dan memiliki manfaat. Teori big bang diperlukan untuk level-level keilmuan tertentu tetapi ketika menyentuh ranah spritual bagaimanapun harus tetap dengan keyakinan yang kita miliki. Orang yang hanya berpikir tanpa batas menyimpulkan bahwa alam semesta terjadi tanpa campur tangan Allah ini adalah kesombongan luar biasa, agar kita dalam belajar filsfat tetap masih dalam koridor maka spritual menjadi penyangkalnya. Objek filsafat ada yang adalah ada dan mungkin ada, semua yang kita pikirkan adalah sebuah wadah, setiap wadah juga merupakan isi. Misalkan rambut berwarna hitam, maka rambut adalah wadah dan hitam itu isinya. Oleh karena itu, wadah adalah subjek dan isi adalah predikat. Maka tidak akan pernah didunia ini: predikat tidak sama dengan subjeknya, rambut tidak akan sama dengan hitam, sebab hitam adalah hanya sebagian sifat dari rambut sedangkan rambut masih mempunyai sifat-sifat lain selain hitam yang tak terhingga banyak dan semua sifat rambut itu juga adalah wadah. Jadi dapat disimpulkan bahwa dunia berstruktrur yang terdiri atas wadah dan isi serta isi juga wadah, yang banyak tersebut adalah kuasa tuhan, yaitu tuhan yang Esa.
Pertanyaan Keempat:
Berkaitan dengan mati, jodoh dan lahir. Dalam kematian manusia berbeda-beda ada yang sakit, kecelakaan, bunuh diri, dsb. Pertanyaan adalah apakah orang bunuh diri itu sudah ketetapan dari tuhan ?
 Jawaban Pertanyaan Keempat:
Cara pandang berdimensi yang dipandang pun berdimensi, dalam berfilsafat yang namanya takdir adalah sesuatu yang sudah terjadi, jika dinaikan dalam spirtual takdir itu adalah sedang terjadi. Yang terjadi itulah takdirnya.Kaitannya dengan fatal dan fital, fatal adalah takdir serta fital itu ikhtiar. Manusia bisa berikhtiar sebab manusia mempunyai potensi dan hidup manusia tidak bisa lepas dari takdir.Hidup itu adalah pilihan, dan yang memilih adalah Tuhan. Pikiran itu adalah pilihan serta yang kita ucapkan pun adalah pilihan diantara kata-kata yang lain. Olehnya itu, manusia hidup karena ketidak sempurnaan. Manusia adalah mahluk terpilih (tereduksi) dalam filsafat dikenal dengan faham Reduksionisme bahwa manusia itu terpilih dan dipilih, organ tubuh manusia itu adalah pilihan. Tiga hal yang pokok dalam diri manusia adalah lahir, jodoh dan kematian memiliki kedudukan yang sama serta Tuhanlah yang menentukan.

Pertanyaan Kelima:
Istri itu cuman satu dalam pikiran, lalu bagaimana dengan poligami pak?

Jawaban Pertanyaan Kelima:
Seperti penjelasan tadi bahwa jika istri dalam pikiran hanya satu sedangkan yang lainnya adalah contoh-contoh. Dalam filsaafat istri ini adalah wadah sedangkan yang lainnya adalah isinya.

Pertanyaan Keenam:
Segala sesuatu itu telah ditakdirkan, sementara motivator selalu mengarahkan menuju kesempurnaan. Pandangannya seperti apa pak??

Jawaban Pertanyaan enam:
Segala sesuatu selalu berpasang-pasangan dan mencari jodohnya, setiap yang ada dan mungkin ada adalah tesis. Sedangkan selain daripada adalah anti tesis. Contoh : diriku ini adalah tesis tetapi semua diluar diriku adalah antitesis. Ketetapan yang telah dibuat dalam agama adalan tesis dalam filsafat maka anti tesisnya adalah ikhtiar manusia.Tesisnya fatal dan anti tesisnya potensi, maka motiator itu mengembangkan potensi-potensi agar manusia itu punya potensi.. Segala sesuatu berubah diikhtiarkan ke sang pencipta itulah keikhlasan.Apa bedanya motivator dengan para filosofer?Kalau motivator itu melakukan kontrol dan kendali sedangkan filosofer melakukan pengamatan dan melakukan refleksi dengan apa yang dilihatnya tanpa masuk pada setiap sisinya.

Pertanyaan Ketujuh:
Bagaimana mensinergikan antara pikiran dan hati, agar tidak ada penyesalaan??

Jawaban Pertanyaan Ketujuh:
Pada dasar kodrat itu adalah takdir-Nya. Ditemukan oleh  Imanuel kant, bahwa isi tidak sama dengan wadah, walau isi juga wadah dan wadah juga isi, akan tetapi wadah tidak sama dengan isi seperti contoh yang sebelumnya itulah yang dinamakan kontradiksi dalam filsafat.Tanpa adanya kontradiksi maka tidak ada kehidupan,sebab hidup manusia memang kontradiksi. Prinsip yang kedua adalah prinsip identitas, misalkan A=A ini hanya ada dalam pikiran sebab pikiran sudah terbebas dari ruang dan waktu, tetapi selagi dia diucapkan maka A yang pertama sudah berbeda dengan A yang kedua. Oleh karena itu, manusia selalu diwarnai dengan kontradiksi-kontradiksi. Manusia bisa makan, minum ini karena kontradiksi sebab terjadi pertempuran hebat antara oksigen dengan darah merah sehingga munculah energi. Kontradiksi inilah manusia bisa hidup, manusia tidak bisa terhindar dari kontradiksi. Pengetahuan adalah pertarungan antar tesis dan anti tesis menjadi sintesis. Sebagai seorang ilmuwan harus siap melakukan sintesis-sintesis antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru.